Kearifan Lokal dalam Mempertahankan Eksistensi Kebudayaan Daerah di Era Global

Suwanto (2011) mengatakan bahwa globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Sedangkan menurut Malcom Waters (dalam Pustaka. 2011), globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma di dalam kesadaran orang. Penyebaran globalilasi pada era ini begitu pesat karena adanya sokongan dari bidang IPTEK, sehingga berbagai informasi dari seluruh aspek kehidupan menembus dimensi-dimensi sosial kehidupan, terasimilasi dan terakselerasi dengan cepat.

Dalam menghadapi globalisasi diperlukan keterbukaan berpikir dan local genius sehingga tidak menimbulkan ketimpangan dan termanfaatkan karena adanya selektivitas, sebab globalisasi tidak hanya mendikte masyarakat untuk bangkit dan melangkah pada sesuatu yang lebih maju, lebih dari itu globalisasi menimbulkan berbagai permasalahan dan tantangan baru yang harus diselesaikan.

Pada hakikatnya globalisasi meimbulkan kapitalisme dan bersifat memusat, yakni hilangnya suatu keadaan bebas dalam pasar ekonomi dan jasa serta perputaran kebudayaan, karena dimensi-dimensi tersebut akan didominasi dan mengacu pada satu induk negara maju yang kemudian dijadikan kiblat dan tolak ukur oleh negara-negara lainnya sebagai simbol modernitas. Secara sederhana globalisasi adalah penyempitan ruang ekspresi.

Disadarai atau tidak munculnya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi budaya daerah, seperti penurunan rasa cinta terhadap budaya ibu, erosi nilai-nilai budaya, serta terjadinya akulturasi budaya yang kemudian bertransformasi menjadi budaya massa yang menyebabkan budaya lokal termarginalkan dan dilupakan keasliannya karena berbagai persepsi dan doktrin.

Kebudayaan sebagai bentuk kekayaan nilai budaya dan kekuatan bangsaIndonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi, sehingga kerap menimbulkan kecemasan karena adanya sugesti diri sebagai negara berkembang akan tertinggal oleh arus global. Mengingat bahwa kebudayaan setiap bangsa cenderung berujtujuan mencari eksistensi secara global sehingga menjadi peradaban dunia yang melibatkan sistem sosial secara menyeluruh.

Di Indonesia sendiri, efek global terhadap kebudayaan menimbulkan pengotakan-pengotakan baru dan isu budaya, yakni terbagi menjadi tiga bagian, kebudayaan yang dipertahankan, kebudayaan yang terakulturasi, dan kebudayaan yang tersisihkan.

Menurut Suwanto (2012), perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai, dan norma sosial merupakan salah satu dampak dari adanya globalisasi.

Kecenderungan dan sikap latah seolah telah menjadi budaya Indonesia, kondisi ril  yang terjadi saat ini adalah eksistensi film-film lokal dan nasional tergeser dengan kejam karena adanya politik ekonomi dan tuntutan pasar yang lebih mengagungkan serial-serial drama luar. Beberapa film yang pernah menjamur di Indonesia, antara lain, serial India, Cina, Korea, Jepang, dan Meksiko. Hal ini menyebabkan budaya Indonesia, yakni keberagaman film nasional termarginalkan dan dianggap kurang berkualitas.

Beberapa budaya Indonesia yang mengalami akulturasi terdapat dalam berbagai aspek, misalnya cara berpakaian dan gaya bangunan. Masyarakat Indonesia cenderung mengagungkan dan berkiblat pada Barat yang dianggap sebagai pusat dan simbol modernisme, seingga gaya berpakaian dan bangunan pun cenderung mengacu ke sana, karena adanya anggapan bahwa ketimuran merupakan budaya yang tertinggal dan tidak mampu menyeimbangi arus global.

Gaya berpakaian, khususnya yang digunakan kaum wanita, adalah cerminan budaya barat yang masuk ke Indonesia karena arus globalisasi. Wanita-wanita Indonesia menganggap bahwa pakaian tradisional yang rapi dan sopan adalah sesuatu yang harus ditinggalkan karena bertentangan dengan zaman, sehingga kecenderungan yang muncul saat ini adalah maraknya pakaian-pakaian berbahan tipis dan pendek. Selain itu, perlu disadari pula, latahnya masyarakat Indonesia yang haus mode, menyebabkan pasar ekonomi dunia menjamur dan mudah diterima di Indonesia meski berkali-kali berganti tren.

Adapun budaya Indonesia yang tetap diprtahankan adala kesenian daerah yang lahir dan berkembang secara turun-temurun. Poin utama lestarinya kesenian daerah, menurut ilmu folklore karena kesenian tersebut disaklarkan. Hanya saja, dalam perkembangannya kesenian tersebut hanya berpusat pada satu daerah dan sulit berkembang karena minimnya kesadaran masyarakat dan tidak adanya upaya untuk memperkenalkan kesenian tersebut ke kancah dunia.

Keterbukaan pemikiran diperlukan untuk menyeimbangi kuatnya arus globalisasi, namun harus tetap berada dalam konteks dan berlandaskan dasar-dasar pengetahuan yang benar, dan dilandasi kearifan lokal sehingga mampu memfiltrasi kebuadayan yang dapat disesuaikan dengan budaya lokal tanpa merusak struktur ataupun memarginalkannya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s