Traumatik Kekerasan Domestik yang Dialami Tokoh Gambir dalam Novel Pintu Terlarang Karya Sekar Ayu Asmara

Karya sastra adalah suatu wadah penampung realita yang terkadang tak terpenuhi dan bercampur dengan imajinasi, digambarkan sesuai dengan yang diinginkan pengarang, dengan pesan dan informasi untuk disampaikan kepada pembaca. Menurut Abrams (dalam Yunianti. 2005) karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya.

Keberadaan karya sastra memegang kedudukan penting, yakni sebagai perspektif kritis lain atas suatu problematika hidup yang disikapi secara artistik dan imajinatif, sebagai bentuk lain dalam menyampaikan aspirasi dan menemukan kebenaran yang tidak dapat diperoleh lewat daya pikir (scientific truth).

Pintu Terlarang  karya Sekar Ayu Asmara merupakan novel yang publikasikan oleh Andal Krida Nusantara pada tahun 2004. Novel in telah diekranisasi ke dalam sebuah film dengan judul sama pada tahun 2009 yang dibintangi oleh Fachri Albar dan Marsha Timothy.

Pintu terlarang merupakan suatu novel yang membawa pembaca pada suatu puncak ketegangan, kemudian menawarkan suatu penyelesaian tak terduga. Novel itu terbagi kedalam tiga alur berbeda, yang kemudian pada klimaks dibuat menjadi satu bagian yang tak terpisahkan, sehingga sulit untuk menebaknya. Dilihat dari gaya bahasa, Asmara mengolah kata-kata dan memilih diksi dengan sangat piawai dan begitu detil. Hanya saja, terdapat beberapa alur yang terkesan terlalu dipaksakan, dan bertentangan dengan logika umum.

Dilihat dari pemaknaan, Pintu Terlarang sendiri merupakan suatu simbol pembatas antara hal nyata dan maya. Pada dasarnya, batasan antara dunia nyata dan maya haruslah jelas, sehingga tidak terjadi suatu kondisi blur yang bercampur aduk, sehingga terjadi suatu ketidakjelasan yang menyembabkan seseorang tidak mampu membedakan antara hal nyata dan imajinasi.

“Kamu ingat ya Gambir. Pintu itu adalah pintu yang terlarang.” Ia menudingkan jari telunjuknya dekat ke wajah Gambir. “Sekali kamu buka, semua yang kita telah bina selama ini akan hilang. Sekali kamu buka, hidup kita akan berakhir. Hidup kamu akan berakhir!”  (Asmara. 2004)

 

Secara ekplisit, Asmara menjelaskan bahwa terkadang dunia imajinasi jauh lebih indah dibandingkan dengan dunia nyata, sehingga ada beberapa orang yang dengan sengaja memilih untuk menyembunyikan diri dalam fantasinya, karena terlalu takut untuk menghadapi kenyataan pahit yang sesungguhnya telah terjadi.

Secara garis besar Pintu Terlarang mengisahkan kehidupan kelam seorang pemuda, Gambir, yang sejak masa kanak-kanak mengalami suatu tekanan berat dari kedua orangtuanya, baik berupa tekanan fisik maupun tekanan mental, yang berdampak terhadap perkembangan psikologisnya sehingga ia mengalami kondisi psikologis yang abnormal, seperti social anxiety disorder, masochist, dan alter ego yang kemudian berkembang menjadi skizofrenia.

Tekanan yang dialami seseorang secara terus menerus dapat berdampak pada psikologi korban, sikap introvert, ketakutan berlebih, dan kecemasan yang dialami korban kemudian akan berkembang menjadi suatu keinganan untuk mengakhari tindakan negatif yang diperolehnya, sehingga akan menuntut seseorang untuk kemudian bertindak radikal diluar kontrol dirinya sendiri.

Asmara mengilustrasikan keadaan ini dengan sangat rapi lewat tokoh Gambir kecil, yang mampu membunuh kedua orangtuanya untuk membebaskan diri dari tekanan yang dialaminya. Namun kondiri tersebut kemudian berkembang menjadi suatu permasalahan yang lebih kompleks, karena rasa traumatik yang dialami Gambir kemudian bercampur dengan rasa bersalah dan ketakutan akibat pembunuhan yang dialaminya, sehingga menimbulkan suatu kondisi psikis yang jauh lebih rumit, yakni timbulnya alterego dalam dirinya sendiri, serta kondisi self injury yang menyebabkan tokoh Gambir memotong tangannya sendiri karena anggapan bahwa tangan itulah yang telah membunuh kedua orangtuanya.

Gambaran Asmara mengenai sosok alter ego tokoh Gambir pada saat ia telah mengalami fase dewasa meskipun ia telah menjalani rehabiliasi di rumah sakit jiwa selama delapan belas tahun, membuktikan bahwa tekanan psikologis dan rasa traumatik yang dialami pada masa kanak-kanak akibat kekerasan domestik, child abuse, berdampak panjang dan akan tetap berbekas. Dunia dalam dunia yang diciptakan oleh tokoh Gambir merupakan suatu pertahanan dan bentuk rangkaian panjang untuk menyangga dirinya agar tidak tumbang dalam kondisi psikologis yang tidak seimbang, sehingga ia akan tetap mampu bertahan hidup dalam tekanan dan rasa traumatik yang dialaminya.

Dalam dunianya, tokoh Gambir membayangkan bahwa ia adalah seorang pematung hebat yang memiliki seorang istri perfeksionis bernama Talyda. Dilihat dari kaitannya dengan masa lalu, berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang meliputi tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, dialog tokoh, dan deskripsi pengarang mengenai tokoh, dapat diketahui bahwa Gambir menciptakan dunianya untuk melarikan diri dari dunia nyata sehingga ia dapat bertahan hidup, namun rasa traumatik yang kuat menyebabkan ketakutan dan hal-hal buruk yang dialaminya dalam dunia nyata ikut terefleksi dalam dunia ciptaannya. Sosok Talyda sendiri dapat dianggap sebagai refleksi dari Ibunya, yang mencintai sekaligus menikamnya. Gambir mencintai Talyda namun pada saat yang bersamaan, ia memiliki suatu ketakutan terhadap sosok istrinya ini, dan pada pada bagian klimaks, digambarkan bahwa Gambir membunuh Talyda sebagaimana ia membunuh sosok Ibunya untuk melarikan dari dari tekanan dan ketakutan. Hal ini menunjukan bahwa sesuatu yang ideal tidak pernah benar-benar ada, sekalipun dalam dunia khayal, karena logika selalu turut andil dalam setiap fase kehidupan.

Dalam novel ini, Asmara juga menyelipkan gambaran feminisme radikal, yakni gerakan feminis yang beranggapan  bahwa penindasan terhadap perempuan oleh laki-laki berakar pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideologi patriarkinya. Dengan demikian kaum lelaki secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan. Aliran ini menganggap bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki, seperti hubungan seksual adalah bentuk dasar penindasan terhadap kaum perempuan (Jaggar dalam Banita). Bagi mereka patriarki adalah dasar dari ideologi penindasan yang merupakan sistem hirarki seksual dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan privilege ekonomi (Eisenstein, 1979 dalam Banita).

Gerakan feminis radikal ini ditunjukan oleh tokoh Talyda, seorang wanita liberal yang merasa berkuasa atas Gambir karena pribadinya yang perfeksionis dan superior. Ditunjukkan pula oleh sosok Talyda bahwa bahwa persoalan biologis tidak mampu menekannya. Ia merasa antara laik-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, bahkan dalam persoalan mengandung dan melahirkan anak, perempuan jauh lebih berkuasa daripada laki-laki yang hanya menanamkan benih, sehingga keputusan untuk aborsi atau melahirkan anak yang dikandung adalah murni hak seorang istri, yang tidak dapat ditembus oleh laki-laki.

Kekurangan dari novel ini terdapat pada bagian alur dan kelogisan cerita. Secara logika, Gambir yang selama 18 tahun terkungkung dalam pusat rehabilitasi rumah sakit jiwa, dan hanya menikmati dunia bebas hingga usia sembilan tahun, mampu menciptakan imajinasi san alter ego mengenai pematung dan tata caranya, uskup agung, serta dai. Berdasarkan hal itu tidak berterima, karena pada dasarnya, imajinasi yang diciptakan, berasal dari apa yang pernah dilihat atau didengar.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s