Perilaku Masyarakat Hedonis dalam Novel Karmila Karya Marga T.

Karya sastra adalah suatu wadah penampung realita yang terkadang tak terpenuhi dan bercampur dengan imajinasi, digambarkan sesuai dengan yang diinginkan pengarang, dengan pesan dan informasi untuk disampaikan kepada pembaca. Menurut Abrams (dalam Yunianti. 2005) karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya.

Keberadaan karya sastra memegang kedudukan penting, yakni sebagai perspektif kritis lain atas suatu problematika hidup yang disikapi secara artistik dan imajinatif, sebagai bentuk lain dalam menyampaikan aspirasi dan menemukan kebenaran yang tidak dapat diperoleh lewat daya pikir (scientific truth).

Karmila karya Marga T. merupakan novel yang publikasikan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1973 dan ltelah mengalami beberapa kali cetak ulang hingga tahun 2004. Pada mulanya Karmila merupakan cerita bersambung yang dimuat di dalam Harian Kompas. Novel ini menorehkan pro dan kontra dalam masyarakat karena persfektif yang berbeda dalam menyikapi persoalan sensitif semacam seks dan agama. Novel in telah diekranisasi ke dalam sebuah film dengan judul “dr. Karmila” pada tahun 1981 yang disutradarai oleh Nico Pelamonia.

Dilihat dari estetika sebuah karya, meskipun Karmila diletakan dalam wasah novel popular, namun dilihat dari pemilihan diksi dan gaya bahasa novel ini cukup berbobot untuk dibaca dan membutuhkan daya apresiasi cukup tinggi, meskipun secara keseluruhan, novel ini beralur datar dan monoton, seperti yang kerap ditemui dalam sinetron-sinetron Indonesia.

Karmila merupakan tonggak dan batu loncatan bagi para penulis wanita Indonesia yang pada saat itu jumlahnya masih minim dan belum mendapat perhaian khusus. Dalam karyanya Marga T. Berhasil menepikan argumen awan bahwa karya yang menarik harus vulgar. Dalam Karmila, persoalan cinta, seksualitas, dan pergaulan digarap secara halus dan ekplisit, sehingga tidak menonjolkan kesal vulgar namun tetap memenuhi konteks dan tuntutan alur.

Dilihat dari sosologi pengarang, tampaknya tokoh Karmila merupakan refleksi dari sosok Marga T yang merupakan seorang dokter. Karmla dgambarkan sebagai sosok wanita yang ideal, berperilaku baik, menebar kesan positif, dan menjadi sosok idaman. Namun di satu sisi, penggambaran ideal ini justru menimbulkan kesan bahwa Karmila adalah tokoh yang superior.

Karmila merupakan gambaran nyata masyarakat modern yang berperilaku hedonis. Menganggap kebebasan dan kebahagiaan dunia adalah seseuatu yang mutlak, dengan mengesampingkan keimanan dan kewajiban sebagai manusia kepada Tuhannya. Hal ini ditunjukan secara gamblang oleh Marga T pada bagian awal novel, mengenai masyarakat hedonis dan liberal yang tidak mampu menghindari gemerlap pesta, minuman keras, dan seks.

Dilihat dari korelasinya dengan zaman, perlaku hedonis masyarakat merupakan dampak negatif dari gaya hidup modern yang kebarat-baratan namun gagal dalam berakulturasi dan menyaring setiap informasi karena minimnya local genius dalam masing-masing pribadi.

Dalam struktur masyarakat hedonis, wanita tampaknya memiliki kedudukan yang rendah. Kedudukan rendah di sini, memiliki makna yang berbeda dengan makna rendah yang sering diperjuangkan dalam gerakan emansipasi. Kedudukan rendah di sini, bukan karena seorang wanita terkungkung oleh adat maupun aturan-aturan, melainkan karena kebebasan tak berbatas yang dimiliki wanita liberal dalam masyarakat hedonis menjadikan wanita itu rendah harga dirinya, karena ia menganggap seksualitas merupukan sesuatu yang lumrah, sehingga dapat melakukan hubungan seks tanpa ada ikatan resmi, dengan mengesampingkan akibat yang akan muncul kemudian. Secara adat dan agama, hal itu tidak berterima, karena selama ini wanita selalu dianggap sebagai sosok tertutup.

Dalam karyanya Marga T. Secara implisit menyampaikan kepada pembaca bahwa perilaku hedonis dapat disebabkan oleh keadaan keluarga yang berantakan, sehingga anak sebagai unit terkecil dalam keluarga menjadi korban. Dalam keluarga yang berantakan, kecenderungan seorang anak untuk memeliki rasa percaya diri yang rendah dan merasa dirinya imperior semakin besar, sehingga ia akan mencari kesenangan lain di luar keluarganya. Hal ini ditunjukan Marga T. Lewat tokoh Feisal, yang menjadi sosok hedonis karena kondisi keluarganya yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan ini disebabkan oleh sang ayah yang lebih mengutamakan perusahaan sehingga memiliki waktu yang minim dalam kebersamaannya dengan keluarga, sementara sang Ibu yang mengabaikan anak-anaknya dan justru berselingkuh dengan laki-laki lain karena adanya ketidakpuasan terhadap suaminya. “Mereka sama sekali tidak bahagia. Dia terlalu sibuk dengan gaplek dan barang-barang impornya dan istrinya yang cantik serta kesepian itu sibuk dengan bedak-bedaknya.” (Marga T. 1974: 21)

Secara keseluruhan novel ini menggangakat konflik psikologi yang dialami antar tokoh, dan Merga T. Juga berkali-kali menyinggung persoalan Ketuhanan. Bagaimana keimanan seseorang kepada Tuhan menjadi suatu poin penting yang dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih pasangan hidup. Seperti yang dilakukan oleh keluarga Feisal ketika mendiskusikan untuk meminang Karmila.

“Engkau belum menjumpainya. Anak itu mahasiswi kedokteran. Tingkat tiga!” kata Ayahnya.

“Apakah itu menjamin?”

“Dia alim.”

“Apakah itu menjamin?”

“Dia katolik.”

“Apakah itu menjamin?”

“Bu, dia beragama dan sungguh-sungguh alim, dan dia suci,” kata Feisal hampir menangis. (Marga T. 1974: 45)

 

Konflik psikologis yang paling menonjol dalam novel ini dialami oleh tokoh utama, yakni Karmila. Sejak awal, Karmila telah mengalami sebuah kontradiksi dalam dirinya, yakni adanya suatu kecemasan berlebih akibat tindakan pemerkosaan yang dialaminya, apakah hal tersebut akan berpengaruh terhadap masa depannya, baik karir maupun hubungangan percintaannya dengan Edo, tunangannya. Untuk menekankan hal tersebut, Marga T . kerap mengulang-ngulang narasi dan monolog yang sama.

Kontradiksi yang kedua terjadi ketika Karmila dinyatakan hamil. Karena gengsi dan harga diri tinggi, tokoh Karmila mengalami suatu dilema mengenai status sang anak di kemudian hari, hingga timbul sebuah pilihan : memberikan anaknya kepada ibunya dan menganggapnya sebagai adik atau menikah dengan laki-laki yang telah melakukan tindakan asusila terhadap dirinya kemudian memberikan anaknya pada laki-laki itu. Dilihat dari kacamata psikologis, tindakah tersebut adalah hal wajar, mengingat para wanita yang menjadi korman tindakan asusila akan kehilangan jati diri dan rancangan masa depan, dan secara wajar wanita tersebut akan membenci pelaku asusila.

Kontradiksi yang terakhir masih berkaitan dengan persoalan harga diri tinggi. Ketika tokoh Karmila mengalami suatu dilema dalam hubungan pernikahannya akibat kemunculan kembali seseorang di masa lalunya. Dan akibat kehadiran putrinya. Pada dasarnya sebagai seorang ibu, seorang wanita memiliki suatu intuisi dan dorongan untuk mencintai putrinya, namun karena adanya harga diri tinggi dan egoisme yang dimiliki tokoh Karmila, didukung olrh rasa traumatik dan kekesalan panjang, tokoh Karmila mengabaikan dan berusaha menolak kehadiran putrinya. Dan Marga T dengan halus berhasil menyajikan akhir yang logis, bagaimana perasaan dan tanggung jawab seorang ibu terhadap anaknya, serta hubungan darah di antara keduanya tidak bisa dipisahkan ataupun ditolak dengan sebuah kebencian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s