Propaganda dan Kontra Propaganda dalam Drama “Pandu Partiwi” karya Merayu Sukma

Oleh:

Auliya Millatina Fajwah

Secara etimologi, drama berasal dari bahasa Yunani, draomai, yang berarti bertindak. Menurut Dietrich (dalam Zamroni. 2006) drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan aksi pada pentas dihadapan penonton.

Drama merupakan perspektif kritis karena kerap kali menjadi wadah untuk menyajikan cara lain dalam memberikan kritik konstruktif terhadap gambaran konflik-konflik kehidupan manusia, dan bagaimana cara menghadapinya, karena drama adalah karya sastra yang memiliki dunia dan logika pemahaman sendiri.

“Pandu Partiwi” karya Merayu Sukma merupakan drama yang dimuat dalam majalah Keboedajaan Timoer, salah satu majalah besutan Jepang di Jakarta, pada tahun 1943. “Pandu Partiwi” merupakan pemenang sayembara yang diadakan Keimin Bunka Shidobo. Secara keseluruhan drama ini sarat dengan propaganda pemerintah militer Jepang, hal ini dikuatkan oleh data-data yang menyebutkan bahwa Merayu Sukma terhimpun dalam Kantor Dinas Propaganda Jepang (Sendenbu). Diamati lebih dalam lagi, selain mempropagandakan, drama “Pandu Partiwi” juga mengandung pesan kontra propaganda yang disampaikan secara tersirat melalui pengaluran dan penokohan, terutama dialog antar tokoh Jaya dan Pandu. Seperti yang dikatakan A.P. Foulkes bahwa awal abad kedua puluh adalah abad propaganda.

Secara struktural, bahasa Melayu mulai luluh penggunaanya, karena dalam drama ini Sukma menggunakan bahasa Indonesia secara utuh, tanpa banyak memuat diksi asing dan kata pinjaman. Teks sampingan yang dihadirkan cukup sederhana namun padat berisi, sehingga mempermudah pelakonannya. Dalam penulisannya, Sukma menggunakan metafora-metafora sehingga berhasil menutupi makna sesungguhnya. Selain itu, drama ini juga dipenuhi dengan personifikasi, yakni konsep-konsep abstrak yang dipaksakan oleh pemerintah Jepang untuk ditampilkan di panggung sebagai manusia.

Drama “Pandu Partiwi” memuat banyak sekali simbol-simbol yang menyembunyikan arti sesungguhnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pandu berarti penunjuk jalan, anggota perkumpulan pemuda yang berpakaian seragam khusus yang mendidik anggotanya supaya berjiwa ksatria dan gagah berani, sehingga dapat dilihat bahwa Pandu adalah suatu konsep yang harus diteladani. Partiwi melambangkan bumi, tanah air. Jaya mewakili konsep keberhasilan, yakni kemenangan dalam perjuangan. Priayiwati merupakan gambaran seseorang yang dalam masyarakat memiliki kedudukan dan melambangkan masa lalu. Sedangkan Nadarlan merupakan personifikasi dari Belanda, menggambarkan konsep mengenai kejahatan dan musuh besar. Semua tokoh dalam drama “Pandu Partiwi” merupakan simbol-simbol yang mewakili konsep rumit yang berkaitan dengan propaganda Asia Timur Raya. Dapat diasumsikan bahwa “Pandu Partiwi” berarti didikan bagi tanah air Indonesia.

Unsur propaganda dalam “Pandu Partiwi” dapat dirasakan melalui tokoh Nadarlan. Pembaca didikte dengan doktrin-doktrin bahwa Belanda adalah peghianat bangsa, kejam, pembohong, dan merupakan musuh besar, sehingga keberadaannya tidak bisa diterimakan dan harus ditiadakan. Lewat dialog antara tokoh Priayiwati dan Nadarlan, tercitra bahwa kejahatan dan kepalsuan yang ditawarkan oleh Nadarlan membawa kesengsaraan bagi Priayiwati. Meski kedudukan dan status tinggi didapat Priayiwati lewat Nadarlan, dengan mengorbankan Pandu, namun karena ketidaksenangannya nadarlan menyingkirkan Priayiwati.

…. Aku tak sudi berdampingan dengan seorang penjahat seperti engkau. Biarlah selama-lamanya engkau menjadi sampah dunia, sebab namamu telah dikikis dari buku orang baik-baik. …. Pergilah engkau ke gua sarang penjahat, sebab di situlah memang tempat yang paling cocok bagimu. Di situlah hanya yang suka menerimamu (Sukma. 1943 : 207).

Dapat diinterpretasikan bahwa Belanda merupakan bagian yang harus dihindari di tanah Indonesia, karena dapat menimbulkan penderitaan. Bahkan, kaum priyai Indonesia, yang sempat mengabdi pada Belanda setelah mengkhiati bangsa, dapat disingkirkan dengan orotisanya. Dengan ini, Sukma mendikte pembaca lewat suatu perspektif bahwa keberadaan Jepang di masa lalu adalah suatu kesalahan dan menimbulkan banyak penderitaan.

Hal politis juga dapat dirasakan lewat beberapa tanggal yang disinggung Sukma dalam karyanya, yakni tanggal 9 Maret dan 8 Agustus. Dalam drama “Pandu Partiwi” kedua tanggal tersebut dianggap sebagai hari besar yang harus diperingati, realitanya Jepang memperoleh kejayaan pada kedua tanggal tersebut. 8 Desember 1941 Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour lumpuh, merupakan jalan bagi Jepang untuk memuluskan niat membentuk persemakmuran Timur Raya, sementara pada 9 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

…. Misalnya hari 8 Desember, ialah hari dia Tuan lepaskan dari perbuatannya yang tersesat hendak membunuh diri, hari itu akan diperingatinya selama hidupnya (Sukma. 1943 : 215).

Jadi pada hari tertangkapnya penjahat besar itu, yaitu hari tanggal 9 Maret bukan saja penting diperingati oleh Pandu sendiri—tetapi penting juga menjadi peringatan oleh dunia orang baik-baik seumumnya. Karena sejak hari itulah dunia orang baik-baik mulai terlepas dari gangguan seorang penjahat besar yang telah sekian lama merajalela, merampok dan merampas hak milik orang, menyamun dan membunuh dengan kejam (Sukma. 1943 :215-216).

Pada beberapa fragmen, tokoh Pandu dianggap melambangkan Jepang, namun secara tersirat Pandu adalah karakter yang menggiring pembaca untuk sadar akan butuhnya kemerdekaan sebagai titik tolak kebebasan, dan meniadakan perbedaan sehingga hubungan sosial di tanah air dapat berjalan dengan harmonis.

Unsur kontra propaganda terdapat pada babak pertama, tercitra lewat dialog antara Jaya dan Pandu. Meskipun terkesan bertujuan mempropaganda bangsa Indonesia untuk turut andil membantu Jepang dalam perang melawan Amerika dan Inggris dalam Perang Dunia II, namun sebenarnya memiliki makna dualis, yakni sebagai bentuk keragu-raguan, kebencian, kebingungan, dan pemberontakan menghadadapi keadaan tak menentu karena kesewenangan Jepang, serta sebagai sikap tegas pemuda Indonesia dengan semangat juang untuk meraih kemerdekaan.

Saya bukan tidak berani hidup, tetapi sudah bosan tinggal di masyarakat yang telah penuh oleh kepalsuan (Sukma. 1943 : 195).

…. Sifat saudara yang tidak takut mati itu, baik digunakan buat maju ke medan perjuangan guna menghancurkan musuh kita kaum penindas dan pengkhianat itu. …. Saudara Pandu, Saudara mesti hidup terus menjadi Pandu masyarakat (Sukma. 1943 : 196).

“Pandu Partiwi” merupakan drama beraliran romantis-idealis yang kuat, penuh dengan simbol-simbol yang mewakili berbagai konsep kompleks. Mengandung dua sisi bertentangan antara unsur propaganda dan kontra propaganda, yang dikemas secara apik dalam suatu karya yang koheren tanpa adanya tumpang tindih.***

 

Daftar Pustaka

 

_____. 2006. Antologi Drama Indonesia. Jakarta: Amanah Lontar

Sukma, Merayu. 1943. “Pandu Partiwi”. Jakarta: Keboedajaan Timoer

Suseno, Agus. 2012. “Sastra Indonesia Modern di Kalimantan Selatan Sebelum Perang (1930-1945)”. Melalui www.jendelasastra.com/wawasan/artikel/sastra-indonesia-modern-di-kalimantan-selatan-sebelum-perang-1930-1945. 2 Oktober 2012

Zamroni. 2006. “Konflik dalam Naskah Drama DAG DIG DUG Karya Putu Wijaya”. Melalui http://skripsi.dagdigdug.com/bab-ii-kajian-pustaka/31-drama. 26 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s