Proses Perluasan dan Gaya Penulisan Setia Seno Gumira Adjidarma dalam Novelisasi Film Biola Tak Berdawai

oleh :

Auliya Millatina Fajwah

Alih wahana merupakan istilah yang diciptakan oleh Damono, yang digunakan untuk membicarakan masalah transformasi.Damono (dalam Suseno.2011) menjelaskan bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain, yang secara harfiah berbeda dengan terjemahan. Seperti cerita rekaan diubah menjadi tari, drama, atau film.Alih wahana juga bisa terjadi ketika film diubah menjadi novel, atau bahkan puisi yang lahir dari lukisan, dan sebaliknya.Dalam alih wahana akan terjadi perubahan, yakni adanya perbedaan antara karya yang satu dan karya hasil alih wahana tersebut,  misalnya tokoh, latar, alur, bahkan dialog harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan jenis kesenian lain .

Novelisasi adalah pemindahan, perubahan bentuk, atau proses adaptasi sebuah film ke dalam novel. Fenomena ini telah dimulai sejak tahun 70’an dalam dunia perfilman Hollywood, ketika film-film sukses saat itu dengan segera dituangkan lewat kata-kata ke dalam sebuah novel dengan gaya penulisan yang setia, dengan kata lain hanya sekadar menuliskan kembali cerita film tersebut. Pada saat itu, novel hasil novelisasi tidak lebih dari sebuah cendera mata film. Sedangkan di Indonesia proses novelisasi baru muncul sekitar tahun 1986, dan tidak begitu fenomenal.

Dalam proses novelisasi, tuntutan untuk setia pada cerita, eksplorasi bisnis dan prediksi keuntungan merupakan pertimbangan yang bersifat mutlak, sehingga dalam proses ini karya sastra yang dialihwahanakan tetap mempertahankan wajah aslinya, tetap bulat dengan keutuhan cerita tanpa melewati proses perubahan yang berarti. Hal ini yang terjadi pada film Biola Tak Berdawai. Mengingat film Biola Tak Berdawai mendapat sejumlah penghargaan di kancah internasional, namun justru tidak terlalu sukses di pasar komersial dalam negeri, pihak penerbit tampaknya berusaha membuat penerbitan buku sebagai bagian dari peluncuran kembali film agar lebih tereksplorasi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan fenomena novelisasi dalam perfilman Hollywood.

Biola Tak Berdawai adalah sebuah film berdurasi 97 menit yang diproduksi oleh Kalyana Shira Film pada tahun 2003, berkat kerja sama Sekar Ayu Asmara sebagai sutradara, dan Nia Dinata sebagai produser.  Film yang dibintangi oleh Ria Irawan, Nicholas Saputra, Jajang C. Noer, dan Dicky Lebrianto ini berhasil meraih beberapa penghargaan seperti The Naguib Mahfouz PrizeFestival Film Internasioanl Kairo 2003, Aktris Terbaik Festival Film Asia  Pasifik di Shiraz, Iran, serta Film Terbaik, Aktor Terbaik dan Musik Terbaik Festival Film Internasional Bali. Film ini mengangkat problematika masyrakat yang alot untuk diselesaikan, yakni kehidupan bayi tunadaksa yang kerap kali dikesampingkan, dengan bumbu percintaan antar tokoh pendukung di dalamnya.

Pada tahun 2009, Biola Tak Berdawai diadaptasi kedalam sebuah novel oleh Seno Gumira Adjidarma, yang dipublikasikan oleh Penerbit Akoer. Meskipun novel ini memenuhi tuntutan penulisan yang setia, namun dikemas dengan begitu apik dengan gaya bahasa yang khas mengingat Adjidarma adalah seorang sastrawan besar dengan karya yang cukup banyak.

Adjidarma mengambil sudut pandang Dewa, dengan bagian prolog berupa monolog tokoh Dewa secara utuh.Ada beberapa pertimbangan yang mungkin diambil oleh Adjidarma dalam menentukan sudut pandang.Jika “Aku” yang bercerita adalah Dewa, tidak aka nada yang bisa menyangkalnya, karena tidak ada seorang pun yang tahu perasaan Dewa.Karema secara sederhana, Dewa digambarkan sebagai sosok yang selalu diam dan menunduk, namun selalu hadir dalam setiap fragmen hingga akhir.

Jika saja Adjidarma mengambil sosok Renjani sebagai sudut pandang, akan hadir suatu klimaks ketika sosok Renjani harus ditiadakan menjelang akhir, begitu pula dengan sosok Bhisma yang kehadirnya baru dimulai pada pertengahan cerita.

Namun pada akhirnya, Adjidarma tetap tidak konsisten dalam menentukan sudut pandang, karena ada sudut pandang lain di samping Dewa yang selalu muncul ketika penceritraan wayang dimulai, namun hal tersebut tidak masalah, karena memang tidak ada aturan mutlakberkenaan dengan konsistensi sudut pandang, dan hal tersebut juga tidak mengganggu terhadap jalannya cerita, justru memberikan esensi tersendiri.

Karena pada dasarnya novelisasi adalah proses gaya penulisan setia terhadap cerita asli, maka seperti film lain yang dituangkan ke dalam transkripsi,ceritanya akan mengalir sama, sehingga kiranya sah saja jika hanya menikmati salah satu karya, baik itu novel maupun film.

Mekipun demikian, novelisasi tampaknya tidak dapat terlepas dari proses perluasan atau penambahan, dan hal itu adalah sesuatu yang lumrah, mengingat bahasa harus dapat menggugah imjinasi pembaca semaksimal mungkin. Melihat novel garapan Adjidarma yang hampir dua ratus halaman, tentu saja ada proses perluasan disana. Karena akan memunculkan suatu masalah, jika penulis hanya terpaku pada alur yang tersedia, karena mungkin skenario asli hanya akan menghasilkan tulisan terbatas, dan sulit untuk mendapatkan hasil sepanjang seratus halaman.

Film adalah visualisasi skenario, tapi novelisasi bukanlah sekadar litererisasi film, karena jika begitu maka sudah akan dipenuhi oleh skenario definitif yang merupakan turunan dari filmnya. Novelisasi artinya kita bisa bercerita dengan berbusa-busa yang dalam film disebutkan pun tidak, selain hanya kelihatan sebagai gambar. (Adjidarma. 2006)

Merujuk pada pendapat Adjidarma tersebut, novelisasi novel memang bukan serta merta memindahkan skenario, namun menuliskan hal yang menarik lewat keindahan dan kekayaan bahasa seperti menulis novel pada umumnya, sehingga menggugah imajinasi pembaca dalam menggambarkan setiap baris kalimat dalam buku, namun tentu saja menghindarkan proses pengkhianatan yang melewati konteks yang telah disepakati, yakni dengan tidak merubah plot utama yang ditawarkan.

Misalnya saja ruangan lilin yang dalam film hanya berupa sebuah ruangan yang dipenuhi lilin yang tersimpan di dalam rak, dalam novel justru digambarkan sedemikian rupa sehingga pembaca seolah tertarik dan mampu menggambarkan sendiri ruangan tersebut dengan suasana yang jauh lebih indah dibandingkan dengan apa yang visualisasikan dalam film.

Dalam novelnya, Adjidarma menyelipkan kekawin Mahabarata, seperti kisah Gandari, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, dan Dorna.Selain untuk mendapatkan hasil tulisan yang cukup panjang, hal tersebut juga dimaksudkan Adjidarma untuk memperjalas jalan cerita. Pertimbangan kebutuhan takterhindarkan, seperti nama-nama wayang dalam novel garapannyaakan kehilangan arti jika pemahaman mengenai wayang diabsenkan, juga untuk memenuhi kepuasan pembaca, karena belum tentu semua penonton film tahu siapa tokoh wayang yang kerap disebut dalam film. Padahal secara simbolik, tokoh wayang berperan sangat penting dalam cerita.

Di samping menyelipkan kisah pewayangan, Adjidarma juga menuliskan tafsir dari gambar kartu tarot dengan gambar misterius yang kerap kali dimainkan oleh tokoh Mbak Wid, Adjidarma mencoba untuk mengubah bentuk visual menjadi literer, dengan pembermaknaan tertentu, ia menafsirkan misteri masa depan dalam kartu dengan kekayaan bahasa sebagai salah satu cara untuk bercerita.

Hal yang bertolak belakang sangat mungkin terjadi, visualisasi sinematografi yang menakjubkan di film, dalam novel mungkin terkesan biasa, dan begitu pula sebaliknya.Adjidarma mengembangkan beberapa bagian dalam film yang kurang dianggap pentinghanya berupa bagian dalam dialog, menjadi sebuah kisah panjang yang menarik. Seperti halnya dialog dalam fragmen tokoh Mbak Wid yang menyebutkan bahwa Dewa mungkin saja adalah sebuah kerang di masa lalunya. Dalam film, dialog itu menggantung hanya sampai sana, dan tidak dilanjutkan, namun Adjidarma mampu mengembangkannya secara apik, diilustrasikan sebagai sosok Dewa, anak tunadaksa yang sakan-akan terpenjara dalam ruangan kaca tanpa jalan keluar.

Kamu bilang tadi Dewa memegang kerang? Mungkin itu karmanya, mungkin itu pertanda… dia sedang berjalan ke alam lain. Mungkin di kehidupan sebelumnya Dewa terlahir sebagai kerang.(Asmara.2003)

Dulu aku adalah kerang yang diam dan menunggu dalam waktu.Semestaku hanyalah rumahku yang telah melekat bersama diriku.Aku hanyalah kerang yang tumbuh di dasar lautan di balik batu karang. Begitu banyak kerang di sekitarku, mungkin kami berasal dari induk yang sama, tetapi meski kami tahu ada sesuatu di luar semesta kami, tiada cara untuk mampu saling menahu. Kami hanya diam, terdiam dan berdiam di dalam dunia kami sendiri.Apakah kami bahagia?Apakah kami berduka?Aku sudah lupa.Karena kami adalah kerang yang bisa membuka dan menutup rumah kami tentu kami berjiwa, tetapi kami sungguh-sungguh lupa apakah kami mempunyai hati.Ada kalanya kami melebur bersama menjadi terumbu karang. Dari kerang ke karang—hanya satu huruf jaraknya, namun memerlukan waktu jutaan tahun bagi kami untuk menjadi karang terindah dalam cahaya matahari yang tidak diam tetapi tumbuh dengan sangat amat pelahan.(Adjidarma. 2009:49)

 

 

Novelisasi pada dasarnya adalah adaptasi, namun tetap memiliki kesahihan yang sama dengan karya baru. Novelisasi tidak bisa dianggap sebagai degradasi dari karya aslinya, karena media yang digunakan jelas berbeda, dan tentu interpolasi penulis membuat suatu karya menjadi lebih indah.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s