Kecenderungan Absurditas dalam Lakon Aduh dan Menunggu Godot

Oleh :

Auliya Millatina Fajwah

Secara etimologi, drama berasal dari bahasa Yunani, draomai, yang berarti bertindak. Menurut Dietrich (dalam Zamroni. 2006. “Konflik dalam Naskah Drama DAG DIG DUG Karya Putu Wijaya”. http://skripsi.dagdigdug.com/bab-ii-kajian-pustaka/31-drama/) drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan aksi pada pentas dihadapan penonton.

Drama merupakan perspektif kritis karena kerap kali menjadi wadah untuk menyajikan cara lain dalam memberikan kritik konstruktif terhadap gambaran konflik-konflik kehidupan manusia, dan bagaimana cara menghadapinya, karena drama adalah karya sastra yang memiliki dunia dan logika pemahaman sendiri.

Aduh adalah naskah drama yang ditulis oleh Putu Wijaya pada tahun 1973, menyajikan gambaran kepaguan sekelompok orang yang dihadapkan pada suatu permasalahan. Putu Wijaya memberikan esensi kepada pembaca bahwa apa yang dituangkan dalam karyanya adalah sesuatu yang hidup dalam dunianya sendiri, tidak dapat dipahami oleh nalar, dan melenceng dari logika umum.

Waiting for Godot, karya Samuel Becket, merupakan naskah drama yang ditulis pada tahun 1952 dan memperoleh hadiah Nobel tahun 1969, sebuah naskah yang awalnya berbahasa Perancis dengan judul En Attendant Godot, menyajikan kisah penantian sia-sia Vladimir dan Estragon akan kedatangan Godot. Naskah drama ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh W.S. Rendra pada tahun 1970 dengan judul Menunggu Godot, yang kemudian diterjemahkan ulang oleh Bernadeta Verry Handayani pada tahun 1999 dengan judul Sementara Menunggu Godot.

Baik lakon Aduh maupun Menunggu Godot menyajikan sesuatu yang terlepas dari marginal pemikiran ril manusia, kedua naskah tersebut seolah membimbing pembaca untuk menertawakan tindakan tokoh, sekalipun tokoh tersebut tengah berada dalam kemelut permasalahan. Pembaca diarahkan untuk tidak menunjukan sebuah simpati karena keharuan, melainkan rasa gemas dan perspektif bahwa permasalahan yang diangkat adalah sebuah parodi humor dengan anggapan bahwa tokoh adalah sosok yang konyol.

Kedua naskah drama tersebut menggambarkan fragmen tak berkesudahan dalam wilayah non-rasional, digambarkan dengan adanya kejadian serupa yang terus berulang menghampiri tokoh yang sama, seolah tidak ada pangkal dan tidak akan terungkap bagaimana akhirnya. Baik Aduh maupun Menunggu Godot memberi gambaran bahwa dialog antartokoh bukan lagi satu-satunya hal mutlak untuk berkomunikasi dan saling mengerti, karena justru dengan adanya percakapan tersebut, suasana tampak membingungkan. Menuntun pembaca pada rasa penasaran, namun tidak menyajikan akhir yang diharapkan, justru membiarkan pembaca hanyut dengan pikiran akan akhir yang terkesan menggantung.

Cerita yang diangkat menampilkan gambaran yang sama, yakni sebuah absurditas. Dalam naskah Aduh, Putu Wijaya menggambarkan suasana tidak rasional, yakni ketika seorang yang sakit datang hanya untuk mengaduh tanpa mengatakan apapun, dan sekelompok orang di sana justru menjadikannya bahan perdebatan. Selain itu, proses kematian dan pembusukan yang begitu cepat adalah suatu hal yang bertentangan dengan logika umum. Naskah drama ini meraih kebenaran dalam dunianya sendiri, sebuah dunia absurd yang oleh kaum realis dianggap tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh nalar, karena tidak ada kejelasan karakter, dalam hal ini Putu Wijaya menggunakan istilah “salah seorang” dalam naskahnya, dan tidak ada plot yang runtun, hanya kisah berulang. Begitu pula dengan Menunggu Godot, yang tidak membangun sebuah alur, melainkan hanya menegaskan suatu ketidakpastian dalam hidup, tidak ada suatu yang benar-benar terjadi dalam hidup manusia melainkan suatu kesia-siaan, seperti yang dilukiskan melalui penantian Vladimir dan Estragon, yang hingga akhir cerita tidak menemukan titik terang tentang yang dicari dan ditunggunya. Menunggu Godot juga menyajikan sebuah fragmen berulang yang menghampiri tokoh yang sama, sebuah peristiwa yang kompleks dan rumit. Selain itu, dalam naskah Menunggu Godot ketidakrasionalan juga ditampilkan, melalui tokoh Pozzo yang menua dan buta dalam semalam, juga kegilaan Estragon dan Vladimir yang setia menanti Godot hingga mereka menghabiskan waktu seharian di tempat yang sama.

Seperti yang diungkapkan oleh Soemanto, Bakdi (dalam makamwaru.multiply.com, 2008) perkembangan drama di Indonesia pada tahun 60’ sampai 70’an, kecenderungan teknik penulisan absurd sedang memuncak. Banyak indikasi yang ditemukan, termasuk dalam naskah Putu Wijaya. Teater absurd adalah istilah untuk jenis teater yang mengungkapkan kegagalan bahasa sebagai alat komunikasi, dapat dilihat dari alur yang tidak jelas dan ujung pangkalnya, penokohan yang tidak jelas perkembangannya, dan dialog yang tidak singkron.

Teater absurd bermaksud membuat penontonnya sadar akan posisi manusia yang genting dan misterius di alam semesta ini, serta mengisi tujuan ganda dan menghadirkan absurditas, yakni kondisi manusia di sebuah dunia di mana runtuhnya keyakinan religius telah menyingkirkan manusia dari kepastian. Meskipun tampak aneh, cuek, dan tidak runtun, sebenarnya teater absurd merepresentasikan suatu titik balik menju fungsi teater yang orisinal dan religius, konfrontasi manusia dengan dunia mitos dan realitas religius. Teater Absurd memproyeksikan dunia pribadi penulisnya, maka secara obyektif tidak memiliki tokoh-tokoh yang valid. Teater ini tidak bisa menunjukkan pertentangan antara sifat-sifat yang berbeda atau mempelajari hasrat manusia yang terjebak dalam konflik, dan karenanya tidak dramatis dalam pengertian umum. Teater ini juga tidak bermaksud mengisahkan sebuah cerita untuk menyampaikan hikmah moral atau sosial. Teater Absurd tidaklah dimaksudkan untuk bercerita tapi untuk menyampaikan suatu pola citraan puitik. (images.kurakurabiru.multiply.multiplycontent.com)

Pada era tahun 70’an, yakni ketika naskah Aduh ditulis dan Menunggu Godot diterjemahkan, kecenderungan sastrawan adalah menulis dengan gaya absurd. Seperti yang diungkapkan Banita, Baban (resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/ godot.%20doc.pdf) lakon Aduh menunjukan adanya analogi dengan Waiting for Godot sebagai hasil pertemuan pikiran, yakni sebuah kecenderungan yang sama.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s