Adaptasi My Sister’s Keeper Karya Jodi Picoult ke dalam Film Karya Nick Cassavetes

Oleh :

Auliya Millatina Fajah

Transformasi atau ekranisasi adalah alih wahana dari karya sastra ke film. Istilah ekranisasi berasal dari bahasa Perancis, ecran yang berarti layar. Hal ini mengacu pada definisi yang diungkapkan oleh Erneste (dalam Suseno. 2008. “Ekranisasi: Sebuah Proses Adaptasi”) bahwa ekranisasi adalah pelayarputihan, pemindahan, atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film.

Dalam proses ekranisasi, prediksi keuntungan merupakan pertimbangan yang bersifat mutlak, sehingga dalam proses ini karya sastra yang dialihwahanakan adalah karya sastra besar dengan penjualan tinggi. Hal ini yang terjadi pada novel My Sister’s Keeper.

My Sister’s Keeper merupakan novel besar karya penulis dengan penjualan terbaik versi New York Times, Jodi Picoult. Novel ini pertama kali dipublikasikan pada 6 April 2004 oleh Atria Books di New York, Amerika Serikat. Berceritera tentang Anna Fitzgeralg—gadis berusia 13 tahun,yang mengajukan tuntutan kepada orangtuanya karena telah melakukan serangkaian tindakan medis tanpa mempertimbangkan pendapatnya untuk kepentingan kakaknya, Kate Fitzgerald, seorang penderita leukemia.

Pada 26 Juni 2009 My Sister’s Keeper diadaptasi menjadi sebuah film berdurasi 109 menit dengan judul yang sama oleh New Line Cinema, berkat kerja sama Nick Cassavetes sebagai sutradara, dan Curmudgeon Films sebagai produser. Film yang dibintangi oleh Cameron Diaz, Abigail Breslin, Sofia Vassilieva, dan Alec Baldwin ini berhasil meraih beberapa penghargaan seperti Teen Choice Award 2009, ALMA Awards 2009, Young Artist Award 2010. Film ini dipenuhi oleh kilas balik yang menekankan kejelasan kondisi Kate, dan kedekatannya dengan Anna.

Tampaknya Cassavantes sebagai sutradara memutuskan untuk membuat alur film yang berbeda dengan novel, berusaha melawan keinginan Picoult, meskipun hal itu lumrah terjadi, karena dalam ekranisasi melebur proses pengurangan, penambahan, dan perubahan struktur cerita, sehingga timbul variasi.

Adapun beberapa fragmen dalam film yang berubah dari versi aslinya, antara lain:

  1. Akhir dalam novel, Anna tewas dalam kecelakaan mobil, dan Campbell mengambil langkah untuk mendonorkan ginjal Anna kepada Kate, sehingga Kate tumbuh normal dan menjadi seorang guru tari, Jesse lulus dari akademi kepolisian, Brian ketergantungan terhadap minuman keras, dan Campbell menikah dengan Julia. Namun dalam film, justru Kate yang meninggal karena ketahanan tubuhnya menurun drastis, dan keinginannya untuk bersatu dengan Tylor—kekasih Kate, sesama penderita leukemia yang lebih dahulu meninggal, begitu ditekankan. Sara kembali memulai karirnya sebagai pengacara, Brian pengsiun lebih cepat dari pasukan pemadam kebakaran dan menjadi konsultan anak bermasalah, serta Jesse yang meneruskan pendidikan di akademi seni terkenal di New York.
  2. Julia Romano. Dalam novel ia adalah penasihat Anna. Terdapat plot sampingan yang menceriterakan kilas balik dan problematika mengenai hubungan asmaranya dengan Campbell. Namun dalam film, tokoh ini tidak mendapatkan porsi.
  3. Hubungan antara Jesse dan Brian tidak terlalu dieksplor dalam film, sedangkan dalam novel, Jesse merupakan karakter yang kompleks, ia melakukan banyak tindakan pembakaran disengaja yang kemudian harus dipadamkan oleh Brian.
  4. Hubungan antara Anna dan Campbell tidak terlalu ditonjolkan dalam film. Padahal ada bagian penting dalam novel yang menggambarkan ketersinggungan Anna saat Campbell mengira bahwa ia akan menjual kue pramuka, dan Campbell yang mengatakan kebohongan demi kebaikan kepada Anna bahwa ia tidak perlu memberikan kesaksian dalam persidangan.
  5. Dalam film, Jesse merupakan tokoh penting dalam persidangan, karena ialah juru kunci yang membongkar bahwa Kate ada dibalik gugatan yang ajukan Anna. Sedangkan dalam novel, Jesse berada di rumah sakit bersama Kate selama persidangan berangsung, dan Anna sendirilah yang membuka rahasia bahwa gugatan itu diajukan atas permintaan Kate.

Namun adakalanya proses adaptasi itu memberikan interpretasi lain terhadap penonton yang telah lebih dulu menjadi pembaca novelnya, hal tersebut terkadang dapat menimbulkan kekecewakan, karena apa yang diimajinasikan oleh pembaca jauh berbeda dengan visualisasi yang ditawarkan oleh sutradara.

Pada bagian akhir cerita, Cassavantes tampak lebih arif memutuskan Kate harus meninggal, karena hal itu terkesan lebih logis dibanding cerita aslinya. Picoult tampak terlalu memaksakan agar Kate tetap hidup, sehingga ia merangkai kecelakaan Anna yang justru menimbulkan tanda tanya dalam benak pembaca.

Namun, proses perubahan wahana juga sangat berpengaruh, media yang pada awalnya berupa keindahan kata-kata beralih menjadi audiovisual, tentu saja hal tersebut menimbulkan suatu perbedaan yang jelas. Proses imajinasi yang melibatkan emosi tejadi. Media bahasa yang digunakan dalam novel memberi ruang yang lebih luas bagi pembaca untuk menafsirkan dan mengimajinasikan apa yang diterimanya, sedangkan dalam film penonton disuguhkan gambaran apa adanya berdasarkan pilihan sutradara dengan durasi yang terbatas.

Visualisasi tokoh dalam film kurang memuaskan. Tokoh Kate dalam novel digambarkan sebagai sosok yang cantik dengan wajah yang mirip dengan Anna, namun memiliki tubuh yang lebih kecil dan kurus, namun hal tersebut tampaknya tidak terdapat dalam diri Sofia Vassilieva.

Tokoh Jesse yang diimajinasikan sebagai sosok yang begitu kompleks, merasa terasingkan, pemberontak, dan senang berbuat onar namun kerap merasa kesepian di waktu yang bersamaan, sebagaimana yang digambarkan dalam novel, justru tidak didapat dalam film. Kesan yang didapat dari visualisasi justru sebaliknya, sosok Jesse tampak begitu lembut, penurut, dan sangat perhatian terhadap keluarga. Film ini gagal menampilkan suasanakeluarga yang tidak nyaman karena adanya perasaan yang tidak mengenakan satu sama lain. Film ini justru menyajika citraan bahwa keluarga Fitzgerald adalah keluarga yang berbahagia, sehingga kesan greget berurang dan nyaris menghilang.

Pada bagian awal sampai pertengahan film, ceritera yang disajikan koheren, namun dari bagian tengah hingga akhir, Cassavetes melakukan suatu improvisasi yang dipengaruhi oleh pertimbangan dan pembacaan sutradara atau penulis skenario terhadap ceritera asli. Dalam proses alih wahana dari karya sastra ke dalam bentuk film akan didapati ketidaksesuaian dan penyimpangan, baik ketidaksesuaian yang disengaja atau tidak disengaja, atau bahkan penyimpangan yang terlalu jauh dari bentuk awalnya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s