Gerakan Feminis, Penghianatan, dan Seksualitas dalam Novel Saman Karya Ayu Utami dan Belenggu Karya Armijn Pane

Oleh:

Auliya Millatina Fajwah

Karya sastra adalah suatu wadah penampung realita yang terkadang tak terpenuhi dan bercampur dengan imajinasi, digambarkan sesuai dengan yang diinginkan pengarang, dengan pesan dan informasi untuk disampaikan kepada pembaca. Menurut Abrams (dalam Puspita Yunianti. 2005. “Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel  Saman Karya Ayu Utami”.  http://www.scribd.com/doc/46251314/Pandangan-Dunia-Pengarang-Dalam-Novel-Saman-Karya-Ayu-Utami) karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya.

Keberadaan karya sastra memegang kedudukan penting, yakni sebagai perspektif kritis lain atas suatu problematika hidup yang disikapi secara artistik dan imajinatif, sebagai bentuk lain dalam menyampaikan aspirasi dan menemukan kebenaran yang tidak dapat diperoleh lewat daya pikir (scientific truth).

Saman karya Ayu Utami merupakan novel yang dipubikasikan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada April 1998. Karya Ayu Utami, yang pada mulanya direncanakan sebagai fragmen novel pertamanya, Laila Tak Mampir ke New York.  Novel ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda dengan judul Samans Missie, yang dipublikasikan pertama kali di Amsterdam, 9 April 2001. Novel kontroversional ini memenangkan Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998, dan penghargaan bergengsi Prince Clause Award 2000 di Belanda.  

Saman merupakan batu loncatan kebebasan karya sastra. Sebuah ilustrasi pemikiran radikal yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan, melintasi marginal rezim yang menabukan persoalan seksualitas dan intoleransi umat beragama, sisi wajah lain dari gerakan feminis. Sebuah novel kontroversial yang konstruktif. Dengan penggambaran dualis, yang mengangkat dua sisi, alur utama digambarkan lewat penceritraan Saman, dan alur bawahan lewat penceritraan Laila. Saman merupakan refleksi nyata gambaran kehidupan masyarakat sekitar rahun 1990-an, yakni pada zaman Orde Baru.

Belenggu karya Armijn Pane merupakan novel yang dipublikasikan oleh Poedjangga Baroe pada tahun 1940. Sebuah karya mengenai cinta segitiga yang terinspirasi oleh teori psikoanalisis Sigmun Freud. Novel kontroversial yang mengangkat masalah seksual, prostitusi, dan perselingkuhan. Belenggu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, antara lain bahasa Malaysia tahun 1965, bahasa Mandarin tahun 1988, dan bahasa Inggris tahun 1989 oleh John McGlynn dengan judul Shackles.

Dalam karyanya, baik Utami maupun Pane menampilkan sisi sensitif yang sama, yakni mengangkat tema seputar seksualitas, penghianatan, dan gerakan feminis, sebagai bentuk ketidaksepahaman pada pemikiran global dan keadaan.

Menurut Puspita, Dyah seksualitas adalah integrasi dari perasaan, kebutuhan dan hasrat yang membentuk kepribadian unik seseorang, mengungkapkan kecenderungan seseorang untuk menjadi pria atau wanita. (“Seksualitas pada Individu Autis Remaja”. 2009. http://puterakembara.org/rm/seksualitas.shtml)

Tema seksualitas yang diangkat, sama-sama mengantarkan kedua novel ini pada kontroversial karena beberapa lapisan berpandangan bahwa hal tersebut terlalu tabu untuk dikemukakan secara gamblang sebagai santapan umum.

Utami dan Pane mengangkat tema seksualitas dalam tingkatan dan porsi yang berbeda. Jika Pane hanya menggambarkan  secara halus dan implisit, justru Utami menggambarkan seksualitas dengan lebih berani dan terbuka.

Dalam karyanya, Pane menggambarkan seksualitas secara implisit lewat tokoh Sumartini dan Hartono yang diceritrakan pernah melakukan hubungan seks pada saat kuliah, dan berdampak pada psikologis Tini, yang kemudian memiliki trauma tersendiri dalam menjalin hubungan dengan laki-laki. Sisi seksualitas juga digambarkan melalui tokoh Rohayah dengan kecenderungan perilaku tabu yang mewarnai kehidupan malam dalam dunia prostitusi.

Sedangkan Utami, menggambarkan seksualitas, yang seakan menjadi plot utama dari keseluruhan ceritanya. Jika dipahami lebih dalam, nilai implisit mengenai seksualitas telah terasa sejak bagian awal, penggambaran mengenai tokoh Laila yang dilema akan ideologinya sendiri tentang keperawanan, hingga akhirnya hal tersebut lepas setelah ia berhubungan dengan Sahir.

Tema seksualitas semakin terasa tajam  diilustrasikan Utami lewat pencitraan tokoh  Shakuntala, sosok yang merasa memiliki kebebasan penuh atas dirinya dalam berhubungan dengan laki-laki, mengesampingkan perspektif umum, dan lebih mengutamakan kepuasan pribadi. Utami bahkan dengan berani  menggambarkan sosok Shukantala sebagai pribadi dengan perilaku seksual yang menyimpang, heteroseksual. Karena selain digambarkan senang berganti-ganti pasangan, bahkan mengimajikan bagaimana sensasi berhubungan dengan Sahir yang dalam fantasinya akan terasa membosankan, terdeskripsikan dalam Saman halaman 132, Tala juga seakan-akan memposisikan Laila sebagai pasangan seksnya. Utami secara blak-blakan membahas seputas seksualitas dengan begitu terperinci, bahkan permasalahan  seputar orgasme pun diungkapkan di sana.

Dia terlalu serius, kurang imajinasi, lambat mengolah humor sehingga selalau terlambat tertawa-kadang sama sekali tak paham apa yang kami luconkan. Berhubungan seks dengannya pasti tidak imajinatif dan tak ada pembicaraan postorgasme yang menyenangkan. (Utami. Saman : 132)

Persamaan sisi lainnya yang diangkat oleh Utami dan Pane adalah penghianat, suatu keadaan ketika loyalitas dipertanyakan keberadaannya, berbagai alasan birokrat seperti rasa jenuh, ketidakpuasaan, dan jarak merupakan klise yang mewarnai kehidupan.

Kedua karya tersebut sama-sama mengangkat problematika skandal perselingkuhan dalam kesakralan pernikahan, dan seluruh gambaran konflik batin yang terbentuk sebagai akibat dari tindakan tersebut.

Dalam Belenggu, kesakralan pernikahan antara Sukartono dan Sumartini tercoreng oleh hubungan gelap Sukartono dan Rohayah. Sebuah hubungan yang tercipta karena perasaan tersiksa dari pernikahan tanpa cinta dan rasa terasing dari gaya hidup pasangan yang tidak sesuai dengan apa yang bayangkan. Puncak penghianatan adalah ketika Tono memutuskan hidup bersama Yah selama satu minggu ketika Tini pergi ke Surakarta untuk menghadiri kongres wanita.

Saman, novel yang sejak awal memang telah menyinggung persoalan loyalitas yang dipertanyakan. Sebuah hubungan gelap yang terjalin antara Laila dan Sahir, seorang pria beristri, selama bertahun-tahun. Pertemuan tak terduga yang hampir selalu berakhir dengan ciuman, merupakan awal dari serangkaian proses penghianatan pernikahan. Puncak ketidaksetiaan yang ditunjukan oleh Sahir adalah ketika ia berhubungan seks dengan Laila.

Poin terpenting dari penghianatan yang diangkat dalam kedua novel adalah perselingkuhan yang terjadi karena adanya pihak yang merasa telah jatuh cinta pada pihak lainnya. Dalam hal ini, pihak tersebut adalah Laila dan Rohayah.

Nampaknya, gerakan feminis adalah suatu tema yang begitu menarik dan tiada habisnya. Baik Pane maupun Utami mengangkat persoalan feminis dalam karyanya, dengan corak yang berbeda. Hal yang membedakan adalah, Pane mengangkat persoalaan feminisme liberal, sedangkan Utami lebih mengangkat persoalan feminisme radikal.

Feminisme liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. (Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Feminis)

Dalam perspektif femnisme liberal, Sumarini menunjukan bahwa perempuan memiliki kebebasan dan intelektual yang dapat dipertimbangkan secara logis untuk disejajarkan dengan laki-laki. Lewat kehidupan modern, kesibukan dalam bidang sosial, dan  mengikuti berbagai kongres, Sumartini ingin menunjukan bahwa bukan hanya laki-laki yang bisa mendominasidunia dengan segala kepentingannya. Sumartini ingin menunjukan bahwa ia memiliki hak privat yang marginalnya tidak bisa dilanggar oleh siapapun, termasuk oleh Sukartono yang mengharapkannya untuk menjadi istri tradisional. Dalam karyanya, Pane menggambarkan sebuah benturan keras, bahwa modern dan modern tidak selamanya menghasilkan kebagiaan, justru berbenturan dan saling menuntut.

Feminis radikal beranggapan  bahwa penindasan terhadap perempuan oleh laki-laki berakar pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideologi patriarkinya. Dengan demikian kaum lelaki secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan. Aliran ini menganggap bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki, seperti hubungan seksual adalah bentuk dasar penindasan terhadap kaum perempuan (Jaggar dalam Banita). Bagi mereka patriarki adalah dasar dari ideologi penindasan yang merupakan sistem hirarki seksual dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan privilege ekonomi (Eisenstein, 1979 dalam Banita).

Ilustrasi tersebut dilukiskan melalui tokoh Shakuntala yang ingin menunjukan bahwa wanita juga bisa menjadi aktif dan tidak melulu dimotori oleh kaum laki-laki. Ia melawan doktin mutlak masyarakat mengenai persoalan keperawanan. Baginya, tidak beralasan,  laki-laki harus diberi keistiweaan oleh perempuan dengan menyajikan keperawanan, sementara keperjakaan sendiri tidak pernah dipertanyakan.

Menghilangkan keperawanan, tidak mengindahkan wejangan ayahnya, dan tidur dengan banyak laki-laki, bagi Tala merupakan bentuk kudeta  untuk menghancurkan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan yang selalu berjalan satu arah. Karena dalam pandangan feminisme radikal, menghancurkan kekuasaan laki-laki adalah realisasi nyata dalam menghadapi laki-laki, yakni menunjukan bahwa perempuan pun dapat menjadi pihak yang aktif.

Bagi Tala, segala sesuatu dijalankan dengan asas timbal balik, begitu pula dengan pernikahan. Baginya pernikahan haruslah harus terjalin dengan laki-laki yang sesuai dengan kriteria, perempuan juga harus memilih, bukan hanya dipilih. Dalam perspektif Tala, sebutan sundel bagi perempuan yang mengejar-ngejar laki-laki adalah istilah lama yang seharusnya ditinggalkan.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s